Kamis, 10 Februari 2011

Cinta & Perkawinan

Suatu hari Plato bertanya kepada Gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."
Plato pun berjalan, dan tak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru ku sadari bahwasanya ranting-ranting yang ku temukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatang pun pada akhirnya."
Gurunya kemudian menjawab, "Jadi, ya itulah cinta."


Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab, "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan."
Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajahi hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya." Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan."


Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.


Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan.. tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.


Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.


Note:
Dalam rangka ... mengenang 09 Februari setahun yang lalu ...

Merenungkan Kasih Sayang Allah ...


Ibnu Qudamah dalam salah satu karyanya berjudul At Tawwabin, menuturkan sebuah kisah menarik tentang kasih sayang dan pertolongan Tuhan. Ibnu Qudamah menyitir kesaksian orang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan.Orang itu bernama Yusuf bin Husain. 

Dia menuturkan kisahnya: "Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyeberangi sungai.
Dzun Nun Al Mishri berkata, "Ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!"
Maka kami lantas menyeberangi mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar kemudian ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.
Kami lalu menyaksikan kejadian yang luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya.
 
Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak itu terjaga. Dzun Nun berkata, "Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!"
Lalu Dzun Nun menasehatinya,"Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia sanggup terlelap meninggalkan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat."
Setelah itu, pemabuk itu berkata, "Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayang-Mu sekalipun terhadapku yang durhaka kepada-Mu. Jika demikian, bagaimana kasih sayang-Mu kepada orang yang taat kepada-Mu??"
Pemuda pemabuk itu lalu meniti jalan menuju Allah. Ia seringkali menangis setiap kali teringat masa lalunya yang sia-sia. Ia terus meniti jalan Allah yang lurus, jalan untuk orang-orang yang diberi nikmat sejati oleh Allah."

Kisah kalajengking yang diutus Allah sesungguhnya bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Mungkin kita tidak menyadari, Allah telah mengutus "kalajengking" untuk menyelamatkan kita dari "ular" yang hendak membinasakan kita.

Kalajengking penyelamat itu bisa berbentuk hal yang bermacam-macam, dan ular yang hendak membinasakan kita juga bentuknya macam-macam. Bahaya itu bisa saja hutang yang menumpuk, yang sangat mengancam dan siap membinasakan. Terkadang orang yang memiliki hutang menumpuk malah terlena dan sama sekali tidak sadar kalau dia sedang dililit ular yang sangat besar. Persis seperti pemuda mabuk tadi. Atau ia sadar dililit ular besar dan pasrah sepenuhnya siap untuk binasa, sebab sudah tidak bisa berbuat apa-apa. 

Dalam kondisi kritis, berulang kali Allah menjaga hamba-Nya. Orang yang hutangnya menumpuk itu diberi jalan keluar oleh Allah. Berbagai macam cara Allah mengirimkan "kalajengking" penyelamat itu. Bisa jadi ada teman lama yang mendengar beritanya dan berkenan membantu menyelesaikan hutang-hutang tersebut. Bisa jadi Allah membuka peluang bisnis baru yang dengan itu ia bangkit lagi dan mampu menyelesaikan hutang-hutangnya. Ada bermacam-macam sebab tapi pada dasarnya Allah lah yang mengatur semuanya. 

Cobalah sejenak kita ingat-ingat sejarah hidup kita. Berapa kali sudah Allah mengirimkan "kalajengking" yang menyelamatkan hidup kita? Berapa kali sudah Allah menolong kita saat dalam kesusahan dan kesempitan mendera? Kalau kita jujur, pastilah berkali-kali. Bahkan kalau kita mau jujur, setiap saat Allah melindungi kita dalam perlindungan yang tidak kita sadari.

Pertolongan dan kasih sayang Allah di dunia ini tidak hanya untuk orang-orang yang taat saja. Tapi juga untuk mereka yang bermaksiat. Contohnya adalah pemuda pemabuk tadi. dia tetap diselamatkan oleh Allah. Semestinya kasih sayang Allah yang demikian itu mampu membuat siapapun insyaf dan terjaga. Yang sudah taat semakin taat kepada Allah. Karena ketaatan kepada Allah itu sendiri merupakan bentuk kasih sayang Allah. Dan bagi yang belum taat, semoga segera insaf bahwa ia masih hidup dan bisa bernafas di dunia ini karena dilindungi oleh Allah.

Semoga kisah di atas bisa menjadi sedikit perenungan dan pengingat kita tentang segala kasih sayang Allah kepada kita. dan membuat kita semakin bersyukur dan taat kepada-Nya. insyaAllah....amin....

(Sumber : Bumi Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dengan sedikit tambahan dari millis sebelah ... )

Jumat, 19 November 2010

Sayap Sayap Patah (Kahlil Gibran)

Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya

Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..
Begitu rapuh dan mudah terluka..
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa..

Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam hati ini..
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat..
juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada..
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…

Wahai ilalang…
Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali

Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga..
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia..
Menghargai apa arti cinta…

Hati yang terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu….
Disudut hati yang beku…
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan ….
Sebelum hilang di terpa angin…

Sambil terduduk lemah….
Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh…
Ku gapai kepingan di sudut hati…
Hanya bayangan yang ku dapat….
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah..
Tertusuk duri-duri yang tajam….
Hanya bisa meratap….
Meringis..
Mencoba menggapai sebuah pegangan..