Selasa, 11 Mei 2010

SETIAP REUNI ADALAH SEJENIS SURGA


Reuni itu tidak selalu positif, bisa negatif ? Tidak semua orang berkembang sama secara psikologis. Bayangkan saja, ada orang yang mungkin masih erat memendam dendam tentang sebuah peristiwa di masa lalu, yang benar-benar jauh di masa lalu. Lalu karena sebuah reuni, orang itu bertemu lagi dengan orang yang ada kaitannya dengan peristiwa itu. Apakah ada jaminan bahwa segalanya lalu akan baik-baik saja? Ini bukan hanya menyangkut orang (bisa sikap, bisa perilaku) dan peristiwa, tapi bisa juga menyangkut tempat atau mungkin benda. Ada hal-hal yang dalam hidup ini ingin kita lupakan, tapi justru reuni malah membuat semuanya itu kembali lagi.

Buat saya, reuni adalah sebuah piknik ke masa lalu dan membangkitkan ingatan-ingatan lama tentang segala hal. Mungkin, secara sederhana dapat saya katakan bahwa reuni dapat membangkitkan kenangan akan pengalaman dari masa lalu dan dulu, tidak semua dari pengalaman itu kita hadapi secara dewasa. Reuni membuat kita punya peluang untuk ingat atau mengingat-ingat segala apa yang pernah kita hadapi secara tidak dewasa di masa lalu, dan – dalam semangat tulisan ini - bertanya-tanya apakah semua itu menorehkan ‘bekas’ yang masih kita bawa sampai hari ini.

Uniknya, reuni itu membuat sebagian orang merasa nyaman dalam fiksasi (fixation) tertentu. Biasanya memang ada asumsi bahwa reuni adalah untuk mengenang masa-masa yang menyenangkan. Padahal kita bisa pertanyakan, apakah masa lalu itu selalu menyenangkan buat semua orang? Atau apakah reuni itu hanya pantas dilakukan bila masa lalu dari sejumlah orang itu sama-sama dipersepsi sebagai menyenangkan?

Bagi seorang individu tertentu, mungkin saja reuni adalah sebuah potensi ancaman. Seseorang bisa saja datang, tapi mungkin ia akan pasang kuda-kuda dalam dirinya. Yang lain, mungkin memutuskan tidak akan datang karena yakin bahwa masa lalu benar-benar masih hidup dan masih memiliki potensi untuk mempengaruhi state of mind yang sekarang.

“Segalanya memang sudah berubah, tapi siapa bisa menjamin bahwa A tidak akan mengolok-olok B dengan julukan yang sama seperti dulu, yang akan membuat A naik pitam?” “Waktu memang sudah berlalu cukup lama, tapi dendam memang harus terbalaskan.” Atau barangkali, “Dulu ada hal yang belum sempat terlampiaskan, maka reuni sekarang ini adalah saatnya.” Bisa pula, … “Ketika itu dia melakukan hal yang amat sangat menyakitkan hati, dan ketika reuni nanti pasti dia tidak akan meminta maaf. Jadi, lebih baik tidak usah datang saja.” Lainnya lagi, “Dia dulu sudah terlalu banyak membuat masalah. Kalau dia datang ke reuni dia pasti akan bikin kacau perasaan. Mana mungkin kita menuntaskan perasaan itu dengan marah-marah di saat pertemuan yang justru seharusnya diwarnai dengan keceriaan ?” Ya, masih ada banyak variasi. Bayangkan kemungkinan yang paling buruk dari sebuah reuni ? Sedia payung sebelum hujan. Kalau sebuah reuni ternyata menyenangkan dan baik-baik saja, ya syukurlah. Tapi kalau tidak ?

Bukannya reuni itu adalah sebuah acara untuk bersenang-senang ? Ya betul, tapi apa hanya itu satu-satunya makna dari sebuah reuni ? Reuni adalah sebuah kesempatan untuk melakukan konfrontasi pada konflik-konflik batin yang berkaitan dengan persepsi pada orang atau peristiwa, serta pengalaman dari masa lalu. Karena seharusnya kita berkembang menjadi semakin dewasa dengan meninggalkan hal-hal yang buruk dari masa lalu dan sepenuhnya melepaskan diri dari ‘sampah-sampah perasaan’ yang mungkin masih tersisa. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ini akan mudah. Memerlukan keberanian, dan ini hanya bisa berlangsung pada taraf individu, tidak bisa diangkat ke permukaan. Dengan datang ke acara reuni, kita membiarkan diri kita menghadapi kemungkinan munculnya ingatan-ingatan dari masa lalu atau adanya reaksi / respon dari orang lain yang tidak menyenangkan, tapi bersamaan dengan itu membuat kita menjadi saksi bahwa segala yang mungkin tidak menyenangkan itu boleh jadi ternyata relatif saja, tidak seintens yang kita bayangkan selama ini, atau malah barangkali sudah berubah sama sekali. Kalau ternyata itu semua tidak bisa datang dari orang lain, maka diri kita sendiri yang harus melakukannya, mereevaluasi semuanya. Apakah cara pandang kita dulu tentang segala sesuatunya akan masih sama dengan yang sekarang ? Kita tidak akan tahu apa yang bisa terbangkitkan pada perasaan kita di acara reuni, tapi itu adalah kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Harus diakui bahwa akan ada orang-orang yang dulu mungkin menyebalkan, dan sekarang ternyata masih seperti itu. Ada pula orang-orang ekstrovert bodoh yang dengan pembenarannya sendiri mungkin akan mengungkapkan apa yang dipikirnya sesuatu yang kocak dari masa lalu, tapi sangat mungkin itu adalah hal yang amat menyakitkan bagi orang lain di situ. Saya tidak bisa membayangkan itu akan benar-benar bisa diniatkan semua orang. Selain tidak semua kepribadian bisa menangani itu, kita juga tidak akan pernah tahu bahwa orang yang kita hadapi itu akan menerima apa yang kita katakan. Agak paranoid juga kalau di sini mesti dikatakan bahwa sebelum reuni dilakukan, semua peserta harus mematuhi semacam codes of conduct tertentu. Masalahnya, tidak mungkin kita mengendalikan perilaku semua peserta reuni. Barangkali, reuni dengan codes of conduct itu malah bukan reuni sama sekali. Kalau begitu, sekurangnya ada ‘gerakan’ proaktif pada diri sendiri, hanya dalam diri kita sendiri, untuk mengevaluasi kembali semua perasaan itu. Kita katakan saja, barangkali orang-orang tolol yang tidak sensitif itu memang sudah ditakdirkan seperti itu selama hidupnya.

Semua orang pasti punya masa lalu, tapi tetap saja barangkali reuni itu tidak untuk semua orang. Tidak ada yang mengatakan baik atau buruk, karena ada suatu masa dalam hidup kita – betapapun itu sungguh berat – kita mesti bertanggungjawab untuk diri sendiri. Maka datang atau tidak-datang ke sebuah acara reuni adalah kebebasan untuk semua orang.

Tryon Edwards (1809 – 1894), mengatakan : Every parting is a form of death, as every reunion is a type of heaven (setiap perpisahan adalah suatu bentuk kematian, seperti halnya setiap reuni adalah sejenis surga).

Terdedikasikan untu seluruh teman-teman: 
1) Alumnsi SMEA Negeri 4 tahun 1988 Pejaten Jakarta (khususnya jurusan akuntansi - love u all)
2) Alumni SMEA N 4 JKT (SMK N 8 JKT) 
3) EKSDI (khususnya ex PT Aji Satria Sena Karya)


Kamis, 01 April 2010

IKAN MAS di Pesmol & di Pecak

Kandungan gizi ikan air tawar cukup tinggi dan hampir sama dengan ikan air laut, sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah cukup. Tingginya kandungan protein dan vitamin membuat ikan yang mudah dibudi dayakan ini sangat membantu pertumbuhan anak-anak balita.

Secara umum, nilai cerna protein ikan sangat tinggi (lebih dari 90 persen), sehingga sangat mudah dicerna oleh bayi sekalipun. Ikan dapat digunakan sebagai sumber protein yang baik bagi bayi dan anak balita, yaitu untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangannya. Lemak ikan air tawar sangat sedikit mengandung kolesterol. Hal ini sangat menguntungkan bagi kesehatan karena kolesterol yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah dan penyakit jantung koroner.

Selain kaya protein bermutu tinggi, ikan air tawar juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang berimbang. Vitamin yang banyak terdapat pada ikan adalah larut lemak (vitamin A dan D), sedangkan mineral yang dominan adalah kalsium, fosfor, iodium, besi, dan selenium. Zat-zat gizi tersebut bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif dan akibat kekurangan zat gizi mikro.

Dewasa ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada masalah gizi ganda, yaitu sebagian penduduk mengalami kekurangan dan sebagian lagi kelebihan zat gizi. Masalah kurang gizi erat berkaitan dengan penyakit infeksi dan kemiskinan. Di lain pihak, oleh karena makin meningkatnya pendapatan, perubahan gaya hidup, dan pengaruh budaya global, masalah gizi lebih akan mengancam kehidupan penduduk golongan menengah ke atas serta kelompok usia lanjut. Ancaman tersebut berupa makin meningkatnya penyakit bukan infeksi, terutama dalam bentuk kegemukan, jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.

Dalam konteks masalah gizi ganda tersebut, peranan ikan air tawar sangat besar dalam penanggulangan masalah gizi kurang maupun lebih.

Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
Dalam era globalisasi ini sebagai Ibu Rumah Tangga, kita dituntut untuk lebih cerdas dalam menyeimbangkan pengelolaan keuangan rumah tangga yang terbatas VS penyajian menu masakan sehari-hari agar  asupan gizi dan protein untuk seluruh anggota keluarga tetap mampu tercukupi.
Terinspirasi oleh hal-hal tersebut diatas, sebagai penulis yang juga bangga menjadi seorang ibu rumah tangga, disini saya mencoba mengajukan beberapa resep masakan “ikan mas” ala betawi.  Sebab selaen kuliner Betawi, emang kagak ade matinye! Kami dan anak-anak mem-favorite-kan masakan betawi walaupun suami tercinta berasal dari suku sunda dan saya asli Jawa Tengah. Hal ini mungkin disebabkan karena cita rasa masakan Betawi yang menonjol (gurih dan sedap). 
Dari kuliner Betawi yang sudah tercampur peranakan China, Arab, dan Belanda. Bukan kebetulan kalau saya memiliki banyak teman peranakan cina dan arab.  Belum lagi Betawi dengan Kota Jakartanya yang menjadi ibu kota Indonesia. Hampir semua suku ada di Jakarta sehingga menambah khazanah kuliner Betawi. Walaupun banyak jenis masakan masuk ke Jakarta, masakan Betawi mempunyai ciri khas turun-temurun. Kebanyakan orang Betawi sangat gemar dengan masakan nenek moyang sehingga banyak sekali masakan Betawi yang masih bertahan, bahkan berkibar dan menjadi salah satu simbol budayanya.
Pesmol IKAN MAS
Ikan mas yang mungil rasanya renyah gurih saat digoreng kering. Siraman bumbu pesmol yang gurih asam sedikit manis dan pedas membuat rasanya jadi makin sedap saja!

Bahan-bahan:
ekor ikan mas kecil (600 g), bersihkan, belah membujur hingga terbuka
sendok teh kunyit parut
siung bawang putih
sendok teh garam

Minyak goreng untuk menggoreng
sendok makan minyak sayur
butir bawang merah, potong dua
10 
buah cabai rawit merah, buang tangkainya
buah cabai hijau keriting, potong kasar
batang serai, memarkan
lembar daun salam
cm lengkuas, memarkan
250 
ml air
sendok makan air jeruk nipis


Bumbu 
dihaluskan:
butir kemiri
siung bawang putih
butir bawang merah
cm kunyit
sendok teh gula pasir
sendok teh garam
buah Maggi® Blok Rasa Ayam

Cara Mengolah :

Cara Membuat:
1. Kerat-kerat badan ikan mas, lumuri dengan air jeruk, garam dan kunyit hingga rata. Diamkan selama 15 menit.
2. Goreng dalam minyak banyak hingga kering kecokelatan. Angkat dan tiriskan.
3. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga wangi.
4. Masukkan bawang merah, cabai rawit merah, cabai hijau, serai, salam dan lengkuas. Aduk hingga wangi.
5. Tuangi air dan air jeruk, didihkan.
6. Masukkan ikan mas goreng, aduk hingga terbalut bumbu. Angkat.

7. Sajikan panas.

Informasi Nutrisi:
Kalori: 217 Kal
Protein: 19.5 gram
Lemak : 12.7 gram
Serat : 0.72 gram
Karbohidrat: 5.59 gram


PECAK IKAN MAS

Sepiring nasi putih hangat menjadi teman menikamti pecak ikan mas goreng. Ikan masnya berwarna kecokelatan, digoreng dengan minyak panas yang tinggi. Hasilnya, luarnya garing, dalamnya sangat lembut gurih! Aroma rempah lamat-lamat langsung tercium saat menyuapkannya ke dalam mulut bersama nasi. Nyam nyam... rasa asam, pedas, dan sedikit asin dari kuah pecak sangat serasi beradu dengan daging ikan mas yang segar.
Wuihh ... rasanya dahsyat, suami dan anak saya pun jadi kalap dibuatnya!
 
Bahan-banan
2 kg    Ikan mas segar, bersihkan.
Lumuri dengan air jeruk nipis dan garam. Diamkan sebentar
20 btr  Bawang merah kupas ukuran sedang – potong kasar
10 bh  Cabe merah (atau menurut selera pedasnya) – potong kasar
5 bh    Cabe rawit merah
2 bh    Jahe sebesar 3 ruas jari - keprek
10 bh  Jeruk Limau ukuran kecil
1 sdm  Gula Pasir
2 sdt   Garam
½ sdt  Penyedap rasa
3 gls   Air panas
 
Cara Membuat
1)           Gorenglah ikan mas yang telah dibersihkan dan direndam dengan air jeruk serta garam hingga kering atau menurut selera
2)           Tumis bawang merah dan cabe yang sudah dipotong kasar dan jahe hingga harum. Angkat. Tiriskan sebentar. Setelah minyak tiris, gerus asal.
3)           Masukkan ke dalam mangkok gerusan cabai, bawang merah dan jahe tadi kedalam mangkok. Tambahkan garam, gula dan penyedap rasa. Tuangkan 3 gls air panas. Aduk rata.  Masukkan air perasan jeruk limau sesuai selera asamnya.
4)           Letakan ikan mas yang telah digoreng dalam piring.  Siram dengan bumbu pecak.
5)           Siap dihidangkan

Tips:
-Pilihlah ikan mas yang masih hidup agar mendapatkan rasa daging yang renyah gurih dan tidak anyir .
-Mintalah tukang ikan untuk membersihkan dan membelah dagingnya ke arah samping sehingga lebih mudah kering saat digoreng.




Mukadimah Doa & Renungan

Kita sudah tidak selayaknya meminta apa-apa pada ALLAH Subhana wa Ta`ala, sudah sedemikian banyaknya keni`matan yang belum mampu kita hitung apalagi mensyukurinya, lalu apa lagi yang mahu diminta?

Namun ALLAH Subhana wa Ta`ala Menyukai doa, maka kita justru harus banyak berdoa, kerna ALLAH Subhana wa Ta`ala Senang Memberi dan Memuliakan para pendoa, maka Rasul ShalALLAHu`alaihiwasalam selalu berdoa, duduk doa, berdiri doa, masuk rumah doa, makan doa, minum doa, tidur doa, bangun tidur doa, segala hal  tidak beliau (ShalALLAHu`alaihiwasalam) lewatkan kecuali dengan doa, karena ALLAH Subhana wa Ta`ala Menyukai doa.

Doa sebagai ekspresi dzikrullah dalam detak spiritualitas yang merupakan saripati ibadah sebagaimana sabda Rasul (HR. Bukhari dan Muslim) memberikan makna kesadaran diri cognizance (self awareness) yang senantiasa merasakan kehadiran Tuhan dan pengakuan kelemahan diri. Doa pada dasarnya bukan sekadar ritual melainkan sebuah oase di tengah gurun kebisingan dan sebuah taman di tengah rimba keresahan duniawi. Sebab doa sebagai manifestasi dzikrullah menjanjikan ketenangan dan keteduhan batin apa yang sangat dirindukan oleh manusia zaman modern seperti pesan perjalanan spiritual John Kehoe, penulis buku best seller Mind Power melalui pengalaman kontemplasi dan meditasi doa (QS. Ar-Ra’d:28). Doa yang benar akan membawa keteguhan istiqamah dalam prinsip hidup dan dengan doa seseorang akan memiliki sikap optimis, karena doa pada hakikatnya merupakan rintihan dan curhat hamba kepada al-Khaliq sebagai pemilik segala kekuatan dengan harapan curahan pertolongan.

Gumam mulut dan ucapan lidah di dalam berdoa bukanlah hakikat dari doa itu sendiri, karena doa merupakan esensi jiwa yang harus disampaikan dengan sepenuh kalbu dan dari nurani terdalam dengan penuh kesadaran (QS. Al-A’raf:205). Kekuatan doa yang akan mengalirkan energi dahsyat dan banyak mukjizat dalam hidup memerlukan kekuatan dalam berdoa yang berupa keyakinan. Doa merupakan kekuatan dan energi yang tiada tara karena ia terhubung dengan Dzat Yang Maha Kuasa.
Abu Dzar al-Ghifari berkata: Doa itu melengkapi amal kebajikan sebagaimana garam melengkapi makanan. Berdoa adalah ibadah. Bahkan dikatakan sebagai ruhnya ibadah. Orang yang hidupnya tidak dilewati dengan berdoa maka ia adalah makhluk yang sombong. Padahal perilaku sombong adalah termasuk bagian sifat penghuni jahanam.

Sabda Rasulallah Saw:
الدعاء هو العبادة ثم قرأ قوله تعالى وقال ربكم ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Doa itu adalah ibadah. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: “berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”